Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2012/09/cara-membuat-tab-menu-horizontal.html#ixzz2BUn2TQsY




Cari Misteri

Mengapa Kertas Menguning?

Seiring waktu berjalan, kertas berubah warna menjadi kuning. Ini hal yang wajar dan tak banyak yang mempertanyakan. Sebenarnya, mengapa kertas berubah warna?
Foto: Shutterstock

Mosca Conte dari Universita di Roma Tor Vergata berusaha menguak alasannya lewat penelitian. Hasil riset dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters.

Untuk melakukan penelitian, Conte menggunakan tiga sampel yang tak diputihkan. Kertas tersebut dimasukkan dalam reaktor dengan kondisi mirip kondisi lingkungan selama 48 hari.

Conte kemudian membandingkan kertas tersebut dengan tiga kertas bertulisan yang berasal dari abad ke-15. Teknik ini memungkinkan peneliti mengungkap apa penyebab perubahan warna kertas.

Peneliti menuturkan, kertas terdiri atas 90 persen selulosa. Seiring waktu, bahan penyusun dinding sel tumbuhan itu teroksidasi.

Menurut Conte, oksidasi mampu mengubah susunan beragam molekul dan mengubahnya menjadi sesuatu yang disebut chromophores, yang menyerap cahaya.

Kertas terlihat putih karena memantulkan semua cahaya. Kertas tua memantulkan cahaya dalam panjang gelombang tertentu, yang menbuatnya terlihat kuning.

Hasil studi ini memungkinkan pihak terkait melakukan langkah memelihara kertas, dan bahkan memutihkan teks dan kesenian tua.

Sejarah Film Dokumenter

Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi (cerita) merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi “dokumenter” sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital). Berikut adalah ulasan singkat mengenai perkembangan sejarah film dokumenter dari masa ke masa.
..
Era Film Bisu

Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, seperti South (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak Film Dokumenter”.
..
Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation's Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek, Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin - Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Era Menjelang dan Masa Perang Dunia
..
Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will (1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.
..
Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Era Pasca Perang Dunia

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Sineas Swedia, Arne Sucksdorff menggunakan lensa telefoto dan kamera tersembunyi untuk merekam kehidupan satwa liar dalam The Great Adventure (1954); Oceanografer Jeacques Cousteau memproduksi beberapa seri film dokumenter kehidupan bawah laut, seperti The Silent World (1954); Observasi kota tampak melalui karya Frank Stauffacher, Sausalito (1948) serta Francis Thompson, N.Y., N.Y. (1957). Mengikuti gaya eksotis Flaherty, John Marshall memproduksi The Hunters (1956) mengambil lokasi di gurun Kalihari di Afrika. Lalu Robert Gardner memproduksi salah satu film antropologis penting, Dead Birds (1963) yang menggambarkan suku Dani di Indonesia dengan ritual perangnya. Di Perancis, beberapa sineas berpengaruh seperti Alan Resnais, Georges Franju, serta Chris Marker lebih terfokus pada masalah seni dan budaya. Resnais mencuat namanya setelah filmnya, Van Gogh (1948) meraih penghargaan di Venice dan Academy Award. Franju memproduksi beberapa film dokumenter berpengaruh seperti Blood of the Beast (1948) dan Hotel des invalides (1951). Sementara Marker memproduksi Sunday in Peking (1956) dan Letter from Siberia (1958).

Direct Cinema
..
Pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan mobil, jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar (tanpa diatur), minim penggunaan narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri (interview). Pendekatan ini dikenal dengan banyak istilah, seperti “candid” cinema, “uncontrolled” cinema, hingga cinéma vérité (di Perancis), namun secara umum dikenal dengan istilah Direct Cinema. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya tren ini, yakni gerakan Neorealisme Italia yang menyajikan keseharian yang realistik, inovasi teknologi kamera 16mm yang lebih kecil dan ringan, inovasi perekam suara portable, serta pengisi acara televisi yang popularitasnya semakin tinggi. Pendekatan Direct Cinema terutama banyak digunakan sineas asal Amerika, Kanada, dan Perancis.

Di Amerika, pengusung Direct Cinema yang paling berpengaruh adalah Robert Drew, seorang produser yang juga jurnalis foto. Drew membawahi beberapa sineas dokumenter berpengalaman seperti, Richard Leacock, Don Pannebaker, serta David dan Albert Maysles. Drew memproduksi film-film dokumenter yang lebih ditujukan untuk televisi, satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah Primary (1960). Film ini menggambarkan kontes politik antara John Konnedy dan Hubert Humprey di Wisconsin. Drew bersama para asistennya merekam momen demi momen secara spontan. Secara bergantian kamera mengikuti kemana pun dua politisi tersebut pergi, di tempat kerja, bertemu publik di jalanan, berpidato, dan bahkan ketika tengah bersantai di hotel. Dalam perkembangan Leacock, Pannebaker, dan Maysles meninggalkan perusahaan milik Drew dan membentuk perusahaan mereka sendiri. Beberapa diantaranya memproduksi film-film dokumenter penting, seperti What’s Happening! The Beatles in New York (1964) arahan Maysles Bersaudara yang dianggap merupakan film dokumenter Amerika pertama tanpa penggunaan narasi sama sekali.

Di Perancis, salah satu pengusung cinéma vérité yang paling berpengaruh adalah Jean Rouch. Salah satu karyanya yang dianggap paling berpengaruh (bahkan di dunia) adalah Cronicle of a Summer (1961). Rouch berkolaborasi dengan sosiologis, Edgar Morin menggunakan pendekatan baru cinéma vérité, yakni tidak hanya semata-mata melakukan observasi dan bersimpati namun juga provokasi. “You push these people to confess themselves… it’s very strange kind of confession in front of the camera, where the camera is, let’s say, a mirror, and also a window open to the outside” ungkap Rouch. Dalam filmnya tampak Morin berdiskusi dengan pelajar serta para pekerja di Kota Paris tentang kehidupan mereka dengan melayangkan pertanyaan kunci, “Are you happy?”. Rouch membiarkan subyeknya mendefinisikan sendiri masalah mereka secara alamiah melalui performa mereka di depan kamera.
..
Sejak pertengahan 60-an, pengembangan teknologi kamera 16mm dan 35 mm yang semakin canggih serta ringan makin menambah fleksibilitas para pengusung Direct Cinema. Sejak awal 60-an, hampir semua sineas dokumenter telah menggunakan teknik kamera handheld untuk merekam segala peristiwa. Direct Cinema juga berpengaruh pada perkembangan film fiksi secara estetik melalui gerakan new wave, seperti di Perancis. Para sineas new wave seringkali menggunakan kamera handheld, pencahayaan yang tersedia, kru yang minim, serta shot on location. Bahkan film-film (fiksi) mainstream pun seringkali mengadopsi teknik Direct Cinema untuk menambah unsur realisme sebuah adegan. Pendekatan Direct Cinema secara umum berpengaruh perkembangan seni film di dunia terutama pada era 60-an dan 70-an.
..
Warisan Direct Cinema dan Perkembangannya Hingga Kini

Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter. Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah “rockumentaries” (dokumentasi musik rock). Rockumentaries memiliki bentuk serta jenis yang beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka. Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970) garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film dokumentasi sejenis berikutnya. Pada dekade mendatang, This is Spinal Tap (1984) merupakan sebuah parodi rockumentary yang terbukti paling sukses komersil pada masanya.

Tradisi Direct Cinema juga tampak pada film-film kontroversial karya Fredrick Wiseman. Film-filmnya banyak bersinggungan dengan kontrol sosial, berkait erat dengan birokrasi dan bagaimana masyarakat dibuat frustasi olehnya. Dalam film debutnya, High School (1968) memperlihatkan bagaimana para siswa berontak melawan birokrasi di sekolah mereka. Maysles Bersaudara memproduksi film “Direct Cinema” Amerika berpengaruh, Salesman (1966) yang menggambarkan seorang salesman yang gagal. Sejak era 70-an, format film dokumenter mulai berubah melalui kombinasi pendekatan Direct Cinema, kompilasi footage, narasi, serta iringan musik. Salah satu sineas yang mempelopori format kombinasi ini adalah Emile De Antonio melalui film anti perangnya, Vietnam: In the Year’s of the Pig (1969). Dalam perkembangannya format ini mendominasi gaya film dokumenter selama beberapa dekade ke depan. Munculnya format digital juga semakin memudahkan siapa pun untuk memproduksi film dokumenter. Kritik sosial dan politik, lingkungan hidup, serta keberpihakan kaum minoritas masih menjadi menu utama tema film dokumenter beberapa dekade ke depan.

Beberapa sineas dokumenter berpengaruh muncul selama periode 70-an hingga kini. Erol Morris memproduksi film-film dokumenter unik dengan tema dan subyek yang tak lazim, seperti Gates of Heaven (1978), The Thin Blue Line (1988), serta Mr. Death (2000). Barbara Kopple dikenal melalui filmnya bertema demonstasi buruh, yakni, Harlan County, USA (1976) dan American Dream (1990). Michael Moore gemar melakukan kritik sosial dan politik melalui film-filmnya Roger and Me (1989), Bowling for Columbine (2001), Fahrenheit 9/11 (2004) serta Sicko. Kevin Rafferty dikenal melalui film-filmnya seperti The Atomic Café (1982) dan The Last Cigarettes (1999). Pendekatan eksotis Flaherty juga masih tampak dalam film peraih Oscar, March of the Penguins (2005) yang tercatat sebagai film dokumenter terlaris sepanjang masa. Selama sejarah perkembangannya, film dokumenter terbukti dapat lebih manipulatif ketimbang film-film fiksi komersil. Film dokumenter melalui penyajian dan subyektifitasnya seringkali cenderung menggiring kita untuk memihak. Masalah etika dan moral selalu dipertanyakan. Sineas dokumenter seyogyanya tidak hanya mampu menyajikan fakta namun juga kebenaran. (hp)

6 Penemu Remaja Yang Merubah Sejarah Dunia

Mungkin relatif cukup susah menjadi seorang remaja , tidak bisa memilih, tidak boleh merokok, mengemudi ataupun tidak dipercaya untuk tangung jawab yang lebih besar..

Dalam banyak kasus orang - orang bilang, berikan mobil itu pada remaja, dan mari kita lihat seberapa parah kerusakan yang bisa dia buat ...Tapi ungkapan itu tidak mengubah fakta bahwa beberapa remaja yang sangat ambisius telah mengubah dunia. ... Sebagai contoh ...


6. Tokoh Superman Diciptakan Oleh Anak Sekolah Menengah
Adalah Joe Shuster dan Jerry Siegel remaja, yang pertama kali menyusun konsep si Manusia Baja ketika dia di sekolah menengah. Desain mereka akan berakhir menjadi template untuk hampir semua superhero yang akan datang di kemudian hari / jaman.

Sebagai contoh, apakah Anda pernah bertanya mengapa superhero memakai spandex dan Speedo? Ini sebenarnya bukan kostum yang praktis untuk memerangi kejahatan . itu karena beberapa anak yang paling mungkin terinspirasi oleh akrobat sirkus tahun 1900an seperti yang dilakukan Zishe Breitbart .

Breitbart adalah sosok yang terkenal waktu Siegel dan Shuster tumbuh dewasa. Alamat suratnya senarnya "Superman-New York," dan iklan untuk acara membual bahwa dia bisa menghentikan lokomotif ngebut. Dan orang seperti itu tidak akan terlihat di atas panggung tanpa sepasang celana ketat.
Sebagai remaja, Siegel dan Shuster menerbitkan sendiri komik mentah mereka dalam fanzine . Setelah Nazi pergi seluruh konsep dari " super man , "diciptakan kembali Siegel dan Shuster sebagai kapten kebenaran, keadilan dan cara Amerika.
Jerry Siegel tidak sepopuler proto-nerd, dan satu-satunya hiburan mencari persetujuan yang sulit dipahami dari ayah yang sukses.
Ayahnya dibunuh secara misterius saat Jerry masih kecil, sehingga memotivasi dia untuk mendedikasikan hidupnya memerangi kejahatan.

5. Penemu Hip-Hop adalah anak Berusia 17 dan 12 tahun
Hip hop tidak ditmukan saat sang penemu duduk dan termenung dan melamun, Hip Hop berkembang dari waktu ke waktu dan memiliki banyak ayah. Tapi dua dari ayah yang paling menonjol dari Hip Hop adalah 2 anak dalam rentang seusia Justin Bieber.
Awal 1970-an dan semua orang mendapatkan lebih dari perdamaian utuh dan cinta.

Clive Campbell 17 tahun, baru saja beremigrasi dari Jamaika, dan anak itu suka musik dan berpesta. Dia dikenal sebagai DJ Kool Herc dan mulai untuk menempatkan pesta pertama
Herc menyadari banyak orang-orang di pesta yang sangat berharap dan menunggu musik yang nge-beat untuk mulai berjoged.
Jadi dia memutuskan untuk bermain karena ketidaksabarannya dengan memainkan irama dari sebuah lagu, yang kemudian memudarkan / mendominasi lagu lain, menciptakan campuran on-the-fly mix musik yang tidak berisi apa2 kecuali ketukan.
Dia juga memiliki gaya vokal unik memanggil dalam mikrofon kepada peserta dalam sajak seperti "B-boys, B-girls, are you ready? Keep on rock steady," dan "This is the joint! Herc beat on the point," yang secara tidak sengaja meletakkan dasar cikal bakal kelahiran musik rap.

Segera, DJ kecil ini memiliki pengikut sendiri yang dikenal sebagai MC pertama, yang menyebarkan hip-hop di seluruhNortheast.

Salah satu murid, Grand Wizard Theodore 12 tahun, mengklaim bahwa ketika dia berada di lantai dasar rumahnya main-main dengan turntablenya, ibunya datang dan mulai berteriak padanya. lalu Theodore mencoba untuk menekan piringan hitam agar lekas menghentikan lagu itu secepatnya, Theodore tanpa sengaja mendengar alunan melambat dari lagu dalam "first scratch"
Theodore Segera mengabaikan ibunya, ia melakukannya berulang-ulang, berusaha untuk menyempurnakan suara yang dihasilkan. Dan itulah asal mula menggores piringan menjadi trend dan digunakan dalam musik hiphop atau digunakan oleh DJ di disco2.
Segera track Herbie Hancock's " Rockit" menjadi Suksesi album Hip Hop pertama
4. Sam Colt Masih Remaja Ketika Menemukan Pistol Revolver
Saat ini perusahaan Colt membuat senapan M16 yang dilakukan oleh militer AS dan banyak senjata lain yang juga digunakan simulasinya dalam permainan Modern Warfare.
Ini semua kembali ke satu orang, yang menghabiskan masa remajanya bermain-main dengan desain pistol.

Untuk permulaan, Sam Colt dimasukkan ke sebuah sekolah asrama sebagai seorang anak, di mana dia tidak populer, tidak punya teman dan berprestasi buruk di kelas. Dan seperti kebanyakan anak 15 tahun lainnya, dia ingin cepat populer.
Jadi, menurut cerita bahwa suatu hari ia membuat kembang api mentah dan memasangnya di luar sekolah. hal ini belum membuatnya terkenal juga, sampai kembang api itu berhasil membakar sekolah.

Sekolahnya berakhir, tapi dia masih tertarik dengan bahan peledak, tidak lama kemudian Colt punya ide dan mulai mengukir desain awal dari sebuah pistol dari kayu.
Sebuah prototipe dibangun, dan ini pistol kaliber 45, masih versi beta, yang artinya pistol ini meledak juga ...Colt mendesain ulang, dan bahkan menunjukkan rancangannya ke beberapa pande besi ... Dan mereka menertawaknnya.
Colt sempat putus asa dan berganti karir, namun dia tidak puas dan akhirnya kembali ke keahliannya dengan besi, dia membuka pabrik (mendapat bantuan dana dari ayahnya) dan mulai menjual senapan dengan desain yang kasar, yang akhirnya gagal dengan spektakuler..
Suatu hari Colt bertemu Sam Walker , kapten Texas Rangers. (Ya, namanya benar-benar "Walker, Texas Ranger.") Walker tidak hanya menyarankan perbaikan untuk pistol, tetapi juga memesan 1000 unit untuk digunakan dalam Perang Meksiko-Amerika. Sejak saat itu Perusahaan Senjata Colt telah menjual lebih dari 3 juta senjata ke sluruh dunia

3. Anak 17 tahun Yang Mendesain 50 Bintang Bendera AS
Sebagian besar dari kita mendengar bahwa bendera Amerika pertama dirancang dan dijahit oleh Betsy Ross. Tapi sekarang banyak yang diperdebatkan, dan sebagai sejarawan bangsa yang paling bosan berdebat tentang siapa yang menjahit bendera pertama, mereka mengabaikan salah satu yang paling terakhir. Setiap bintang di bendera Amerika mewakilkan 1 negara bagian, dan semakin bertambahnya negara bagian maka akan berubah pula desain bintang pada bendera AS,
Yang terakhir, Amerika Serikat menambahkan Alaska dan Hawaii sebagai negara bagian terbaru, dan ketika itu terjadi Kongres kembali merancang bendera berikutnya dengan cara kontes nasional. Lima puluh bintang harus dijejalkan ke bendera entah bagaimanapun caranya.

Di Lancaster, Ohio, Robert Heft 17 tahun berjam-jam melakukan usahanya untuk ikut kontes mendesain bendera baru AS sebagai proyek pelajaran sejarahnya, demi nilai B-.
Tapi Robert Heft bekerja keras pada mesin jahit ibunya, dan berpikir dia pantas dapat lebih. Dia mendekati gurunya, yang menantangnya agar mengirimkan desain benderanya ke Kongres, gurunya mengatakan jika dipilih sebagai bendera baru dia akan mendapatkan nilai A.
Desain Heft bersaing dengan 1.500 desain lainnya oleh seniman di seluruh negeri, Dan seperti akhir dari sebuah film Lifetime, ia benar-benar menang. Presiden Eisenhower menyukai desain bendera Robert Heft lebih dari yang lain.
Pengalaman ini menyebabkan Robert Heft mencapai keberhasilan seperti menjadi walikota Napoleon, Ohio, dan bepergian di seluruh dunia selama beberapa dekade sebagai seorang pembicara motivasi.

2. Remaja 15 tahun Yang Menemukan Mobil Salju

Joseph Bombardier, lahir di Quebec tahun 1907. Yang berarti dia harus menghabiskan musim dingin terperangkap oleh Musim salju yang ekstrem. Pada saat dia 15, Joe muda adalah melalui musim dingin . Dia mengatur rancangan, dalam bentuk Model T yang ditambahkan ayahnya membiarkan mobil keluarga yang usang ditangani Joseph
Penambahan bingkai giring dan baling hand-whittled mengubah mobil Junker lama menjadi sesuatu yang baru. dan lahirlah snowmobile (mobil salju)
Sayangnya, ayah Joseph menginginkan dia untuk berhenti belajar semua teknik mesin yang berguna tersebut dan beralih ke sesuatu yang menguntungkan, seperti Ketuhanan!
Snowmobile itu dibongkar sehingga anak muda kreatif ini dapat mempersiapkan diri untuk seminari.

Ketika di gereja dia tidak sukses, Joe diizinkan kembali ke cinta sejatinya: memberikan jari pada musim dingin. Dia mendirikan perusahaan mobil salju pertama di dunia dan menjadi salah satu orang paling sukses di Kanada, seperti Dudley Do-Right dan Bryan Adams.

1. Remaja 15 tahun Yang Menciptakan huruf Braille

Pada usia 3 th, Louis Braille kecil dtertusuk di matanya ketika dia bermain dengan alat ayah dan berakhir pada kebutaan karena infeksi yang mengerikan. " Karena ini di jaman 1800-an,tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan. Untungnya, Louis lahir di Prancis, Satu-satunya negara yang mempunyai sekolah untuk anak buta di bumi kala itu.
Dia mendapatkan beasiswa di usia 10, tapi ada begitu banyak yang dia bisa pelajari dengan hanya mendengarkan .

Jika Louis kecil ingin membaca buku Charles Dickens suatu hari, dia harus menciptakan sistem penulisan sendiri. Louis terinspirasi oleh kapten tentara Prancis, Charles Barbier de la Serre. Dia mengembangkan sistem eyes-free dalam menulis untuk tentara Prancis yang digunakan selama masa pengintaian dengan maksimal. Barbier memiliki keuntungan dari mata.
Sistemnya, Sonografi , tidak bekerja dengan baik, tetapi terinspirasi itu, Louis praremaja mendedikasikan tiga tahun untuk membuat sebuah terobosan.

dan Pada usia 15 dia menemukan Braille modern - seluruh alfabet yang dapat Anda baca dengan menjalankan jari Anda di atasnya.


sumber : http://danish56.blogspot.com/2012/01/6-penemu-remaja-yang-merubah-sejarah.html?m=1